Pendahuluan

 

Sejak awal munculnya Islam, agama ini telah mengajak kita kepada kecintaan, saling menyayangi, mempererat persaudaraan, toleransi antar sesama, tolong menolong, dan saling memudahkan dalam setiap permasalahan.

Sebagaimana firman Allah Swt. dalam Qs. al-An’am ayat 153, yang berarti: “Dan bahwa yang kami perintahkan ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.

 “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali agama Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (Qs. al-Imran: 103)

“Dan janganlah kamu menyerupai orang- orang yang bercerai berai dan berselisih sesudah dating keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang- orang yang mendapat siksa yang berat.” (Qs. al-Imran: 105)

Kebanyakan orang muslim selalu membicarakan tentang terpisahnya umat Islam kedalam tujuh puluh tiga golongan, dan hanya satu golongan yang selamat. Dorongan rasa fanatisme dari setiap pengikut golongan ini mengkhususkan golongannya-lah yang selamat dan menyalahkan golongan lainnya.

Adapun riwayat yang menyebutkan tentang terpisah umat Islam, yaitu riwayat Turmidzi yang mengatakan dalam kitabnya bahwa Rasulallah Saw. telah mengatakan Yahudi terbagi kedalam tujuh puluh satu atau tujuh puluh dua golongan, dan umatku terbagi ke dalam tujuh puluh tiga golongan.[1] 

 

Pembahasan

 

Seperti yang telah diketahui bahwasanya Islam terbagi kedalam beberapa golongan, dan diantaranya adalah golongan Syi’ah. Penulis membagi makalah ini kedalam tiga pembahasan; Definisi Syi’ah, Historis Munculnya  Syi’ah, dan  Sekte-sekte Dalam Syi’ah.

 

A. Definisi Syi’ah

Kata "Syi'ah" secara etimologis berarti pengikut dan pendukung. Akar kata Syi’ah di dalam al-Quran adalah syai' atau syuyu' yang terulang sebanyak 13 kali.  Namun dari ke 13 penggunaan kata tersebut, hanya ada satu kata yang digunakan dalam konteks kebaikan, yaitu Qs. al-Shaffat: 83 -yang menceritakan tentang keluarga Nabi Ibrahim As. yang datang dengan hati bersih.  Sedangkan 12 kata lainnya digunakan dalam konteks; ungkapan kelompok yang durhaka kepada Allah Swt. (Qs. Maryam: 69), permusuhan dan perkelahian (Qs. al-Qoshos: 15), perpecahan (Qs. al-An’am: 65), pemecah belah agama (Qs. al-An’am: 159), kelompok Fir'aun (Qs. al-Qoshos: 4), kelompok yang dihancurkan (Qs. al- Qomar: 51), penyebar keburukan (Qs. al-Nur: 19) dan seterusnya.

Ibnu Mandzur mengatakan bahwa Syi’ah adalah suatu golongan yang mengikuti dan bergabung dengan ‘Ali Kw (Karamallahu wajhah).

Secara terminologis, Syi'ah adalah kaum muslimin yang beranggapan bahwa pengganti Nabi Muhammad Saw. adalah hak istimewa “Keluarga Nabi” (dalam hal ini, ‘Ali Kw. dan keturunannya), dan di dalam bidang pengetahuan dan kebudayaan Islam, mereka (Syi’ah) adalah orang-orang yang mengikuti mazhab Ahlul Bait.[2]

Abu Hasan al-Asy’ari mengatakan bahwasanya setiap orang yang mengikuti ‘Ali Kw. dianggap kaum Syi’ah, karena mereka mendukung dan mengikuti ‘Ali Kw. serta mendahulukannya dari pada para Shahabat Rasulallah Saw. yang lainnya.[3]

Ibnu Hazm menambahkan bahwasanya barang siapa yang menyetujui dan mengakui bahwa ‘Ali Kw. lebih utama setelah Rasulallah Saw. serta berhak menjadi pemimpin dan begitu pula keturunannya, maka dia dinamakan dengan Syi’ah.[4]

Al-Syahrastani juga mengatakan bahwa Syi’ah adalah golongan yang mengikuti ‘Ali Kw. dan menyatakan kepemimpinannya secara nash dan wasiat, serta meyakini bahwa kepemimpinan tidak keluar dari keturunannya.[5]

Al-Jurzany juga menyebutkan bahwa Syi’ah adalah mereka yang mengikuti ‘Ali Ra. dan mengatakan bahwa ‘Ali Ra. adalah pemimpin setelah Rasulallah Saw. serta meyakini bahwasanya imamah tidak keluar dari keturunannya.[6]

DR. Muhammad Imarah dalam bukunya menegaskan bahwa sekedar merasa cinta kepada Ahlul Bait saja tidak cukup untuk menggolongkan seseorang sebagai Syi'ah. Seseorang baru bisa dianggap Syi'ah, menurutnya lagi, jika ia telah mengimani bahwa ‘Ali Kw. telah ditunjuk sebagai pengganti Rasulullah Saw. dengan nash dan wasiat.[7]

 

B. Historis Munculnya Syi’ah

Para penulis dan sejarawan membagi awal kemunculan Syi'ah dalam pentas sejarah dunia Islam ke dalam tiga pendapat, yaitu:

1.      Awal munculnya Syi’ah terdapat pada zaman Rasulallah Saw.

Pendapat pertama mengatakan bahwa awal munculnya Syi’ah terdapat pada zaman Rasulullah Saw. Ulama-ulama Syi’ah itu sendiri berpendapat bahwa "Syi’ah" dalam artiannya yaitu mengikuti, mendukung dan membantu ‘Ali Kw. akan kepemimpinannya setelah Rasulallah Saw., maka awal munculnya Syi’ah bersamaan dengan munculnya agama Islam pada zaman Rasulallah Saw.

Al-Nawabkhaty -salah seorang alim dikalangan Syi’ah- mengatakan bahwa golongan pertama dalam Syi’ah adalah golongan ‘Ali Ibnu Abu Thalib Kw. yang dinamakan dengan Syi’ah ‘Ali Kw. pada masa Rasulallah Saw. Para shahabat yang tergolong Syi’ah pada waktu itu diantaranya; Miqdad Ibnu Aswad, Salman al-Farisi, Abu Jandab Ibnu Janadah, dan ‘Imar Ibnu Yasir.[8]  

Al-Sayyid Muhsin al-‘Amily berpendapat bahwa dengan mengutamakan ‘Ali Kw., hal ini menunjukan bahwa Syi’ah muncul pada masa Rasulallah Saw.[9]

Muhammad al-Husain al-Kasyif al-Ghitha -salah seorang penulis dikalangan Syi’ah- berpendapat bahwasanya orang yang meletakkan dan menyimpan akar Syi’ah kepada ‘Ali Kw. adalah Rasulallah Saw., dan orang pertama yang meletakan akar Syi’ah dalam Islam yaitu Rasulallah Saw. sendiri.[10]

Sayyid al-Zanjany mengatakan dalam bukunya (‘Aqoid Imamiyyah al-Istna ‘Asyariyyah) yang dikuatkan oleh para ulama Syi’ah, bahwasanya awal munculnya Syi’ah bersamaan dengan awal munculnya agama Islam.[11]

2.      Awal munculnya Syi’ah pada zaman setelah Rasulallah Saw wafat

Al-Ya’quby mengatakan dalam “Tarikh”-nya bahwa benih Syi’ah itu muncul setelah Rasulallah Saw. Wafat. Dan dikatakan pula bahwasanya orang yang paling utama setelah kepemimpinan Rasulullah Saw. adalah ahlul bait, dan orang yang utama dari ahlul bait adalah ‘Ali Ibnu Abu Thalib.

Ustadz Ahmad Amin mengatakan dalam “Fajru Islam” bahwa; berpendapat suatu jama’ah bahwasanya akar pertama munculnya Syi’ah adalah setelah Rasulallah Saw. wafat, dan ahlu bait-lah yang paling utama menjadi khalifah. Orang yang utama pada waktu itu adalah al-Abbas (paman nabi) dan ‘Ali (anak pamannya), dan ‘Ali-lah yang paling utama dari pada al-Abbas.[12]

3.      Awal munculnya Syi’ah terdapat pada zaman setelah ‘Utsman Ra. wafat

Pendapat ketiga mengatakan bahwasanya awal munculnya Syi’ah terdapat pada masa setelah ‘Utsman Ra wafat. Setelah dibai’atnya ‘Ali Kw. sebagai khalifah yang ke-empat, terjadilah beberapa kejadian yang diantaranya; Thalhah, Zubair dan ‘Aisyah meminta kepada ‘Ali Kw. untuk mencari pembunuh ‘Utsman Ra. dan memberi hukuman kepadanya, maka terjadilah perang yang dinamai dengan Perang Jamal dan orang yang mengikuti ‘Ali dinamakan dengan Syi’ah.

 Perang Jamal dan Shiffin berakhir dengan arbitrase, yang kemudian mendorong timbulnya Khawarij dan Murji'ah. Ditambah dengan pembantaian Karbala, mendorong mereka untuk mencari akar ideologis mereka sendiri. Sejarah memang telah mencatat betapa malang perlakuan dan nasib yang menimpa mereka. Pasca Perang Shiffin yang merenggut kekuasaan politik mereka, diteruskan dengan pembantaian Karbala dan terbunuhnya Husain Ra. Sejarah memang tampak tidak berpihak kepada mereka. Setelah tragedi-tragedi yang menyedihkan tersebut, mereka masih terus dihantui pengejaran serta pembantaian secara massal terhadap Ahli Bait Rasulullah Saw. dan pendukungnya.

 

C. Sekte-sekte Dalam Syi’ah

 

‘Abdu al-Qohir Ibnu Thahir al-Bagdady mengatakan bahwa Syi’ah terbagi ke dalam empat bagian, yaitu: Imamiyyah, Zaidiyyah, Kisaniyyah dan Ghalat.

 

1)      Kelompok Imammiyyah

Mereka juga dinamakan sebagai Rafidlah (penolak), karena menurut Abu Hasan al-Asy'ari mereka menolak dan mengingkari kepemimpinan Abu Bakar dan 'Umar. Mereka bersepakat bahwa Nabi Saw. telah menggariskan `Ali Kw. sebagai pemangku kekhalifahan setelah beliau, dengan menyebut namanya secara jelas dan telah mendeklarasikannya kepada umat. Mereka juga berpendapat bahwa mayoritas shahabat Rasulullah Saw. telah sesat karena tidak mengikuti `Ali Kw. setelah wafatnya Rasulullah Saw. Mereka juga berpendapat bahwa imamah hanya dapat diterima jika telah digariskan oleh nash, dan imamah tersebut merupakan hak khusus keturunan Rasulullah Saw.

Kelompok Syi’ah Imamiyyah ini disebut juga dengan Imamiyyah Itsna ‘Asyariyyah, karena dalam kelompok Imamiyyah terdapat dua belas imam -yang dimulai oleh ‘Ali Ibnu Abu thalib dan diakhiri oleh Muhammad al-Mahdi. Rasulallah Saw. telah mewasiatkan kepemimpinannya sebelum beliau wafat kepada ‘Ali Kw. dan ‘Ali mewasiatkannya  kepada keturunannya secara berturut-turut untuk menjadi seorang imam atau pemimpin.

Dalam kelompok ini terdapat lima belas sekte yang diantaranya adalah;  al-Muhammadiyyah, al-Baqiriyyah, al-Nawusiyyah, al-Samithiyyah, al- ‘Amariyyah, al-Isma’ilyyah, al-Mubarakiyyah, al-Mausuwiyyah, al-Qoth’iyyah, al-Itsna ‘Asyariyyah, al-Hasyamiyyah, al-Zarariyah, al-Yunisiyyah, al-Syaitaniyyah (pengikut syaitan), al-Kamiliyyah, dan beberapa sekte lainnya yang masing-masing mempunyai doktrin yang berbeda.

2)      Kelompok Zaidiyyah,

Kelompok Zaidiyyah adalah pengikut Zaid Ibnu ‘Ali Zain al-‘Abidin Ibnu Husain Ibnu ‘Ali Ra. Ia dilahirkan pada tahun 80 Hijriyah. Zaid mempunyai sifat sabar, lemah lembut, cerdas, kuat dalam menghafal, pemberani, dan faham dalam ilmu agama.

Zaid menerima pengajaran sejak kecil dari ayahnya, ‘Ali Zain al-‘Abidin. Kemudian ia menerima ilmu riwayah dari kakaknya yaitu Muhammad al-Baqir, sampai beliau bertemu dengan Wasil Ibnu ‘Atho dan menjadi muridnya. Wasil Ibnu ‘Atho adalah salah seorang pembesar Mu’tazilah, sehingga berpengaruh pada pemikirannya dan pemikiran pengikutnya lebih cenderung pada pemikiran Mu’tazilah.

Kelompok Syi’ah Zaidiyah terbagi kedalam tiga sekte, diantaranya adalah:

a.       Al-Jarudiyyah, yaitu pengikut Ziyad Ibnu Abu Ziyad Ibnu Mandzur, yang dikenal dengan sebutan Abu Jarud. Abu Hasan al-Asy’ari mengatakan tentang al-Jarudaiyyah bahwasanya mereka beranggapan bahwa Rasulallah Saw. mewasiatkan kepada ‘Ali Ibnu Abu Thalib sebagai khalifah setelah beliau wafat, kemudain Hasan dan setelahnya Husain, adapun orang yang meninggalkan jejak setelah Rasulallah Saw, maka dia telah sesat dan kafir.[13]

b.      Al-Jaririyyah, disebut juga dengan al-Salmaniyyah. Mereka adalah pengikut Salman Ibnu Jarir al-Zaidiyi. Salman menyalahkan dan mengkafirkan khalifah ‘Utsman Ibnu ‘Affan, dan juga mengkafirkan Siti ‘Aisyah, Zubair, dan Thalhah karena mereka keluarnya dari ‘Ali Ra. pada waktu kejadian Perang Jamal.

c.       Al-Sholihiyyah atau al-Batriyyah, dinamakan al-Sholihiyyah karena dinisbatkan pada al-Hasan Ibnu Sholih Ibnu Hay.

3)      Kelompok Kisaniyyah

Kisaniyyah adalah suatu kelompok yang besar, dan dari kelompok ini menghasilkan dua pendapat lain. Pertama, mereka beranggapan bahwa Muhammad Ibnu Hanafiyyah masih hidup -belum mati- dan mereka menunggunya. Kedua, mereka menetapkan kepemimpinan Muhammad Ibnu Hanafiyyah dan memindahkan kepemimpinannya setelah beliau wafat kepada yang lainnya. Setelah itu, muncul perbedaan dan pertentangan yang telah dibawakan oleh Muhammad Ibnu Hanafiyyah.

4)      Kelompok Ekstreem/Ghulat

Menurut Imam Abu al-Hasan al-Asy`ari, mereka adalah kelompok yang telah menyebar dari kelaziman konsep Syi'ah, sehingga mereka meyakini hal-hal yang membawa mereka kepada kekafiran. Mereka menuhankan 'Ali kw., menuhankan salah seorang pemimpin mereka, mendakwahkan diri sebagai nabi dan lain sebagainya.

Al-Syahrastany mengatakan dalam kitabnya bahwasanya yang dimaksud dengan Ghulat adalah mereka yang ekstrimis, berlebihan pada para imam mereka, menyatakan salah satu dari imam mereka serupa dengan Tuhan, dan sebaliknya Tuhan serupa dengan makhluk. Masalah syubhat- syubhat ini bersumber dari madzhab Tanasihiyyah, madzhab Hululiyyah, madzhab Yahudi dan Nasrani -yang mengatakan kholiq serupa dengan makhluk, dan  makhluk serupa dengan kholiq.[14]

Menurut Abu al-Hasan al-Asy'ari, dalam kategori kelompok Ekstreem atau Ghulat ini terdapat tujuh sekte, diantarnya adalah;

a.       Al-Sabaiyyah, yaitu pengikut ‘Abdullah Ibnu Saba -seorang Yahudi yang masuk Islam yang bertujuan untuk menghancurkan Islam dengan meletakan fitnah dan perbedaan-perbedaan antar muslim. ‘Abdullah Ibnu Saba telah memfitnah Abu Bakar, ‘Utsman dan shahabat lainnya serta mengatakan bahwasanya ‘Ali-lah yang menyuruhnya untuk melakukan hal itu.[15]

‘Abdullah Ibnu Saba beranggapan bahwasanya ‘Ali Kw. adalah Nabi, kemudian beranggapan setelah itu bahwasanya ‘Ali adalah Tuhan. Sebagian pengikutnya beranggapan bahwasanya ‘Ali adalah awan dan geledek adalah suranya, maka ketika mereka mendengar suara geledek mereka mengatakan “Assalamu’alaika wahai pemimpin kami”.

b.      Al-Janahiyyah, yaitu pengikut ‘Abdullah Ibnu Mu’awiyyah Ibnu ‘Abdullah Ibnu Za’far al-Janahin -yang mengatakan akan perpindahan atau reinkarnasi ruh. Menurut mereka, ruh Allah itu berada pada Adam kemudian berpindah kepada ‘Abdullah Ibnu Mu’awiyyah Ibnu ‘Abdullah Ibnu Za’far. Mereka beranggapan bahwasanya dunia ini tidak akan musnah untuk selamanya dan sebagian dari mereka mengatakan ‘Abdullah Ibnu Mu’awiyyah Ibnu ‘Abdullah Ibnu Za’far tidak mati, akan tetapi beliau berada di gunung Asfahani dan berdiri sebagai Nabi.[16]

c.       Al-Bayaniyyah, yaitu pengikut Bayan Ibnu Sam’ani al-Tamimi al-Hindi. Al-Bayaniyyah muncul pada awal abad ke-dua dan beranggapan bahwa juz ilahi pindah kepada ‘Ali Ibnu Abu Thalib, kemudian juz ini pindah kepada anaknya yaitu Muhammad Ibnu Hanafiyyah, kemudian pindah kepada anaknya yaitu Abu Hasyim Ibnu Muhammad Ibnu Hanafiyyah, dan kemudian pindah dari Abu Hasyim kepada seseorang yang bernama Bayan Ibnu Sam’an.

Bayan Ibnu Sam’an mengaku dirinya sebagai Nabi dan menghapus sebagian syari’at Muhammad Saw. Dari sekte Bayaniyyah ini, banyak yang beranggapan bahwa Abu Hasyim ‘Abdullah Ibnu Muhammad Ibnu Hanafiyyah mewasiatkan kepada Bayan Ibnu Sam’an dan keturunannya sebagai pemimpin.[17] Mereka beranggapan pula bahwa Bayan Ibnu Sam’an adalah Tuhan, ruh Tuhan yang pindah kepada dirinya.[18]

d.      Al-Mughiriyyah, yaitu pengikut al-Mughirah Ibnu Sa’id al-‘Ajaliyi. Mereka beranggapan bahwa Mughirah adalah seorang nabi dan Tuhan mereka, karena menurut mereka Mughirah adalah seorang laki-laki yang tercipta dari cahaya dengan mahkota di atas kepalanya. Mughirah beranggapan bahwa dirinya mengetahui nama-nama Allah yang agung. Dengan nama ini, ia menghidupkan yang telah mati serta mengalahkan dan menghancurkan para tentara musuh.[19]

e.       Al-Mansuriyyah, yaitu pengikut Abu Mansur al-‘Ajaliyi yang berangggapan bahwa Allah Swt. mendatangi dirinya dan mengatakan kepada dirinya bahwasanya Abu Mansur al-‘Ajali adalah nabi dan rasul. Abu Mansur al-‘Ajaliyi adalah seorang ahlu Kuffah dari ‘Abdu al-Qois, beliau buta huruf tidak bisa membaca. Setelah Abu Za’far Ibnu ‘Ali Ibnu Husain wafat, mereka mempercayakan urusannya kepada Abu Mansur al-‘Ajaliyi, kemudian beliau naik dan mengatakan bahwasanya ‘Ali Ibnu Abu Thalib adalah nabi dan rasul, dan begitu juga Hasan dan Husain, ‘Ali Ibnu Husain, Muhammad Ibnu ‘Ali, dan Saya adalah nabi dan rasul setelah mereka.

f.        Al-Ghurobiyyah, mereka mengatakan bahwa Allah Swt. mengutus Jibril As. kepada ‘Ali, akan tetapi Jibril As. salah dan pergi kepada Muhammad Saw. karena ‘Ali menyerupai Muhammad. Oleh karena itu, golongann ini dinamakan dengan Ghurobiyyah. Ghurobiyyah adalah suatu jama’ah yang disebut dengan al-Mufawadzoh, hal ini dikarenakan mereka mengatakan bahwa Allah Swt. setelah menciptakan alam, Ia menciptakan Muhammad untuk mengurusnya dan Muhammad meninggalkannya, kemudian Muhammad menyerahkan kepada ‘Ali untuk mengurus alam setelahnya.

g.       Al-Khitabiyyah, yaitu pengikut Abu Khatab Muhammad Ibnu Abu Zainab al-Asadiyi. Mereka meyakini bahwasanya setiap imam mereka adalah nabi dan mengatakan bahwa alam tidak akan musnah. Menurut mereka surga adalah balasan untuk orang yang melakukan kebaikan dan neraka adalah balasan untuk orang yang melakukan kejelekan, dan mereka juga mengatakan perpindahan atau reinkarnasi ruh.

‘Abdu Za’far Ibnu Muhammad adalah salah seorang dari Khitabiyyah yang mengatakan bahwa tuhan serupa dengan dirinya dalam bentuk penampilannya, bahkan dirinya mengaku sebagai Tuhan. Golongan Khitabiyyah ini beranggapan bahwa ‘Ali adalah Tuhan dan mereka mendustakan Muhammad Saw. Mereka beranggapan juga bahwa Allah Swt. memberikan kekuasaanya kepada lima orang, diantaranya adalah; Muhammad Saw., ‘Ali, Hasan, Husain, dan Fatimah. Mereka juga menentang dan menolak lima orang, diantaranya adalah; Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, Mu’awiyyah, dan ‘Amr Ibnu ‘Ash.

 

Penutup

 

Mungkin inilah yang dapat penulis sampaikan tentang definisi, akar dan historis tentang Syi’ah. Penulis sadari bahwasanya di dalam penulisan makalah ini terdapat banyak kesalahan dan juga masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis menerima segala masukan berupa saran dan kritikan, karena dengan itu semua bisa menambah semangat dan pengetahuan saya sebagai penulis makalah ini. Mudah-mudahan bermanfaat.

Wallahua’lam bishowab



[1] Hadits Turmudzy 2740, Bab. Perpecahan Umat, Dar Ihya Turats al-‘Arobi, Beirut, Juz: 5, Hal: 25 .

[2] Al-Syahrastany, Al-Milal wa Al-Nihal, (Beirut: Dar Al-Kutub Al-‘Alamiyah), 1992, Juz: 1, Hal: 144

[3] Abu Hasan Al-Asy’ary, Maqolat Al-Islamiyyin, (TT: Al-Qahiroh), TT, Juz:1, Hal:65.

[4] Ibnu Hazm Al-Dzahiry, Al-Faslu Fi Al-Milal wa Al-Ahwa wa Al-Nihal, (Mesir: Al-Taufiqiyyah), Jilid: 4, TT

[5] Al-Syahrastany, al-Milal wa al-Nihal, (Mesir: Al-Nasyir Muassasat Al-Halaby), TT, Juz:1, Hal: 146.

[6] Al-Jurzany, al-Ta’rifat, (Mesir: Al-Bab Al-Halaby), Cet. 1988, Hal: 114

[7] Muhammad Imarat, DR, Tayarot Al-Fikri Al-Islami, (Mesir: Dar Al- Syuruq), TT

[8] Al-Hasan Al-Nawabkhaty, Furuq Al- Syi’ah, (Mesir: Dar al-Rasyad), TT, Hal. 28

[9] A’yan Al-Syi’ah, TT, Juz: 1, Hal: 13

[10] Al-Kasyif Ghita, M.H, Ashlu Al-Syi’ah wa Ushuluha, (TT: Dar Al-Adzwa) 1993, hal: 118

[11] Al-Zanjany, ‘Aqoid Imamiyyah Al-Istna Asyariyyah, (Beirut: Muassasah Al-A’lamy) 1393 H, Hal: 271

[12] Amiin Ahmad, Fajru Islam, (Mesir: Maktabah Al-Nahdzoh) 1965, Hal: 266

[13] Maqolat Islamiyyin, Op.cit, Hal: 141

[14] Al-Milal wa Al-Nihal, Op.cit, Hal: 173

[15] Furuq Al-Syi’ah, Op.cit, Hal: 32

[16] Ibid, Hal: 47

[17] Maqolat Islamiyyin, Op.cit. Hal: 66

[18] Abu Al-Mudhfar Al-Asfarainy, Al-Tabshir Fi Al-Din, (Mesir: TT), 1940, Hal: 72

[19] Ibid, Hal: 73


|
This entry was posted on 7:22 PM and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

0 comments: